-------

Jumat, 21 Desember 2012

PostHeaderIcon DESAIN JAKET SWEATER..

DESAIN  JAKET SWEATER.........


LOGO BELAKANG........





LOGO DEPAN....


Kamis, 20 Desember 2012

PostHeaderIcon LOGO TARLING



Jumat, 16 November 2012

PostHeaderIcon Power Of Music

Power Of Music
by Lois J. McCloskey
The power of music has been known — yet not fully understood — to humans in all times and in all cultures. Music is a means of expression, music connects emotions — hope, regret, love — and our stories. As a form of communication, music connects us with other human beings, our inner spirits, and our history in a way that words alone cannot. Music is the human language that bridges cultures, genders, and generations.
The power of music grows as we age. To the elderly, music can be a vehicle of reminiscence, such as when an old song brings back the vivid memory of an experience in the distant past — a memory resplendent with not only the story, but the senses and the mood. Our memories are imprinted with music. Music helps us all to define our lives; songs symbolize an era of our life, bring us together in community, and for some become a form of prayer. As one elder said, “Music is emotion from another time. It shapes our personal landscape.”
When words alone make little sense, music becomes an effective means of communication. Aging and disease can leave the body with physical and cognitive disabilities which make expression difficult. Elders with memory loss brought on by conditions such as Alzheimer’s disease often lose the ability to verbalize their thoughts and feelings and to understand the messages spoken to them. Awareness for these elders moves to a different, more intuitive plane where tone of voice and body language speak more loudly. Music speaks to them and for them, and helps them bring clarity to their thoughts and experience. For them, the emotions and spirit that music conveys transcend the spoken word. In some cases, these individuals no longer speak, but they sing!
During a hearing of the U.S. Senate Special Committee on Aging, the well-known neurologist and author Oliver Sacks, M.D. testified that “many elderly patients with strokes are aphasic, they have lost some of their ability to articulate or use words; but the words that are lost may come back with singing...” Musician/singer/actor Theodore Bikel stated, “Human beings are in need of music — not as frill and luxury but as a basic necessity.”
Music and memory are long-time companions who are well suited to one another. Using music as a catalyst, reminiscing can promote well-being and self-esteem, paving the way toward good spiritual and mental health.
Music may be a helpful tool and beneficial for a person with memory loss, but there are definite things to keep in mind:
  Music must be relevant to the person you are working with, i.e. they may have sung in a church choir, so hymns may be music they relate to. Musical tastes are individual and vary. Find out what a person likes or has listened to in the past.
  Not all people are group participants. People with memory loss may begin to become more isolated and do not wish to socialize or to be a part of a group.
  Music programs need to be individual as well as group functions.
  Avoid overstimulation. Sometimes people can become agitated by music that is too fast or too loud. Generally, slower tempos and more melodic music works better (i.e. Strauss waltzes).
  Don’t have music on continuously. Have periods of quiet.
  Music may be incorporated into the daily routine.
  For bathing: Choosing music that’s relaxing and something the individual enjoys may make bathing a more enjoyable experience.
  Before meals: Turn music down or off during meals, because it may direct the person’s attention away from eating.
  Massage: Putting quiet music on and giving a hand massage is noninvasive and nonthreatening, and is also relaxing.
  Exercise to music.
  Reminiscing with music may tap into long-term memory.
  Have a portable tape or CD player in the person’s room, so when they lie down for rest in the day, or sleep at night, they have access to some relaxing music.
  Use of various instruments such as a portable electronic keyboard, autoharp, or guitar may be used to engage people by making them strum, touch, or make sounds on various instruments.
  Using the human voice and singing to people informally while they are dressing or performing other such activities of daily living may be helpful to motivate or to distract.
  Music is the most social of the arts, and a person doesn’t have to
be particularly musical to participate. A person in the late stages of Alzheimer’s disease may still respond to music. It is a valuable tool to use when people are dying, and may be beneficial in assisting with pain management by helping to foster relaxation.
It has been said that “music is the universal language.” In order to learn the “language,” one must use imagination and creativity. The aforementioned are suggestions and ideas which may be tailored to fit individual situations.
A CD of Lois J. McCloskey’s music is included in the Caregiver’s
Support Kit® for your enjoyment and relaxation.
Ms. McCloskey has sung to and with the elderly as a geriatric music consultant, and has experienced the power of music in their lives. She is available for consultations, workshops, and presentations. For more information, contact: Lois J. McCloskey, c/o Molly Dog Music, 6702 Faunterloy Way, SW, Seattle, WA 98136, telephone: 206-932-7007.

Senin, 12 November 2012

PostHeaderIcon Foto Kuningan












PostHeaderIcon Hikayat Abu Nawas : Dosa Besar dan Dosa Kecil



Hikayat Abu Nawas : Dosa Besar dan Dosa Kecil

Abu Nawas al Hasan bin Hani Al Hakami (756–814) orang Persia lahir tahun 756 M di Ahwaz..dan meninggal tahun 814 M di Baghdad.  Ia mengabdikan diri nya pada Sultan Harun Al Rasyid Sultan  Baghdad.  Abu Nawas juga dianggap seorang ulama.  maka banyak muridnya … dan suatu ketika… ada tiga orang yang menanyakan kepada Abu Nawas pertanyaan yang sama… !!! Pertanyaannya adalah “Manakah yang lebih utama mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil… ?”
Orang pertama menanyakan hal itu, dan jawaban Abu Nawas adalah “Orang yang mengerjakan dosa kecil.. !!!” Mengapa… tanya orang pertama. Sebab lebih mudah diampuni oleh Allah.. kata Abu Nawas. Orang pertama puas, yaagh karena ia memang yakin akan hal itu… !!!
Orang kedua menanyakan hal yang sama,… dan jawaban Abu Nawas adalah “Orang yang tidak mengerjakan kedua-duanya… !!!” Mengapa begitu… tanya orang kedua. Yaagh dengan begitu tentu tidak memerlukan pengampunan Allah… kata Abu Nawas… !!! Orang kedua … langsung dapat mencerna penjelasan Abu Nawas…. !!!
Orang ketiga menanyakan juga hal yang sama… !!! Namun jawaban Abu Nawas adalah Orang yang mengerjakan dosa besar… !!! Mengapa … ??? tanya orang ketiga. Sebab pengampunan Allah kepada hambanya sebanding dengan besarnya dosa hambanya itu… !!! jawab Abu Nawas. Orang ketiga puas dengan penjelasan Abu Nawas… !!!
Seorang murid Abu Nawas … yang bingung menanyakan kepada Abu Nawas… !!! “Mengapa dengan pertanyaan yang sama menghasilkan jawaban berbeda… ??? tanyanya.
Jawaban Abu Nawas adalah manusia dibagi tiga tingkatan… yaitu tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati… !!! Seorang anak kecil melihat bintang di langit akan bilang bahwa bintang itu kecil… karena ia hanya menggunakan matanya… !!! Sebaliknya … seorang pandai akan mengatakan bahwa bintang itu besar.. karena ia berpengetahuan dan menggunakan otaknya… !!! Kemudian apa tingkatan hati… ??? Orang pandai yang melihat bintang di langit.. ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil… walau ia tahu bintang itu besar.. !!! Karena ia tahu dan mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Allah yang Maha Besar… !!!
Kemudian … murid tersebut menanyakan… “Wahai Guru… bagaimana mendapatkan ampunan dari Allah mengingat dosa-dosa yang begitu besar… ???”. Bisa… dengan melalui pujian dan doa… kata Abu Nawas… !!! Ajarkan doa itu wahai Guru… pinta murid Abu Nawas… !!!
Illahi lastu lil firdausi ahlan, walaa aqwa’ alannaril jahiimi, fahabli taubatan waqhfir dzunuubi, fa innaka ghafiruz dzambil adziimi ….
Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga. namun aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya hanya Engkau pengampun dosa-dosa besar… Begitulah do’a Abu Nawas

PostHeaderIcon SINOPSIS NOVEL NEGRI LIMA MENARA



SINOPSIS NOVEL NEGRI LIMA MENARA

Kisah ini diawali lima sahabat yang sedang mondok di sebuah pesantren, dan kemudian bertemu lagi ketika mereka sudah beranjak dewasa. Uniknya, setelah bertemu, ternyata apa yang mereka bayangkan ketika menunggu Azhan Maghrib di bawah menara masjid benar-benar terjadi. Itulah cuplikan cerita novel laris Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang menjadi topik Kick Andy kali ini.

Ahmad Fuadi yang berperan sebagai Alif di novel itu berkisah, ia tak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Fuadi tentu saja tidak salah. Sebagai “amak” atau Ibu kala itu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.

“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,” ujar Ahmad Fuadi mengenang keinginan Amak di kampung waktu itu.

Namun ternyata Fuadi alias Alif mempunyai keinginan lain. Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung. Ia mempunyai cita-cita dan keinginan untuk merantau. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya bergeming agar Fuadi tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Namun berkat saran dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo, akhirnya Fuadi kecil bisa merantau ke Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Dan, disinilah cerita kemudian bergulir. Ringkasnya Fuadi kemudian berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani,Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.

Kelima bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik. Menjelang Azan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Fuadi mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.

Melalui lika liku kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ke lima santri itu digambarkan bertemu di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Dan, mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur.

Belajar di pesantren bagi Fuadi ternyata memberikan warna tersendiri bagi dirinya. Ia yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno, ”kampungan” ternyata adalah salah besar. Di pesantren ternyata benar-benar menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen. Di pesantren mental para santri itu ”dibakar” oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah. Setiap hari, sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata mantera ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.

”Siapa mengira jika Fuadi yang anak kampung kini sudah berhasil meraih impiannya untuk bersekolah dan bekerja di Amerika Serikat? Untuk itu, jangan berhenti untuk bermimpi,

Rabu, 05 September 2012

PostHeaderIcon Laporan hasil wawancara tentang koperasi sekolah


Daftar ISI :



Kata pengantar…………………………………………………………………………  ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………….. iii
Bab I  Pendahuluan………………………………………………...………………….... 1
1.1.Latar belakang……………………………………………………………………….1
1.2.Tujuan wawancara…………………………………………………………………...2
1.3.Manfaat wawancara………………………………………………………………….3
Bab II  Pembahasan……………………………………………………………………...4
1.1.Laporan hasil wawancara……………………………………………………………..4
Bab III  Penutup………………………………………………………………………….5
1.1.Kesimpulan…………………………………………………………………………...5
1.2.      Foto-Foto yang di abadikan di koperasi SMK N 1 Indramayu……........................6













KATA PENGANTAR

          Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kelompok kami sehingga dapat menyelesaikan Laporan hasil wawancara  ini yang mewawancarai tentang :
“ KOPERASI SISWA SMK NEGRI 1 INDRAMAYU “
            kami menyadari bahwa didalam pembuatan Laporan wawancara ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
            kami menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan wawancara ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan laporan hasil wawancara ini.
Semoga Laporan hasil Wawancara ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Laporan ini memiliki kelebihan dan kekurangan.


Indramayu, 8 september 2012








BAB I
PENDAHULUAN


1.1.         Latar Belakang
Pentingnya diadakanya suatu koperasi di lingkungan sekolah, selain untuk menyediakan fasilitas untuk kegiatan belajar mengajar agar siswa tidak membeli perlengkapan sekolah di luar lingkungan sekolah,  koperasi juga dapat menambah  wawasan siswa dalam berwirausaha yang nantinya akan berguna untuk siswa dikala sudah ada di lingkungan masyarakat. Koperasi siswa itu sendiri biasanya beranggotakan siswa- siswi / Guru  Sekolah dalam lingkungan sekolah tersebut .
1.2.         Tujuan Wawancara
1.      Untuk menyelesaikan tugas pelajaran Bahasa Indonesia tentang koperasi SMK N 1 Indramayu
2.      Untuk mengetahui perkembangan Koperasi SMK N 1 Indramayu
3.      Untuk mengetahui struktur kepengurusan SMK N 1 Indramayu

1.3.         Manfaat Wawancara
1.      Untuk menambah wawasan bagi siswa tentang berkoperasi
2.      Dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan dan pengalaman berkoperasi           











Bab II
PEMBAHASAN

1.1                 Laporan  hasil Wawancara
Topik               : Koperasi Siswa SMK Negeri 1 Indramayu
Narasumber    : Dwi Haryanto ( Ketua Koperasi siswa / Pembina Koperasi )
Hari/tanggal   : Senin, 3 September 2012
Tempat/pukul             :Koperasi Siswa SMK Negeri 1 Indramayu , pukul 15.00 WIB

1.      Apa nama koperasi ini ?..
Jawab : KOSMETA
2.      Koperasi Siswa ini berdiri pada tahun berapa ?..
Jawab : Tahun 1973
3.      Berapakah modal awal yang di keluarkan untuk membuat koperasi ini ?..
Jawab :  Modal awal yaitu dari murid sendiri ,sekitar sebanyak 1 Ruta Rupiah dan itu dikelola sampai sekarang menjadi 23 Juta Rupiah.
4.      Siapa nama pengurus dan anggotanya ?..
Jawab : Untuk pengurusnya kita ambil dari murid kelas sebelas akutansi untuk nama ketua  namanya bima kalau tidak salah,terus untuk pengurusnya banyak sih semua siswa .
5.      Barang-Barang apa saja yang tersedia di koperasi ini ?..
Jawab :  Yang pertama itu ada alat tulis,Seragam PSH putih abu-abu sampai seragam kejuruan,buku-buku pelajaran kita juga menyediakan foto copy,laminating dan jilid juga
6.      Adakah barang yang diproduksi sendiri atau oleh siswa ?..
Jawab :  Ada..
7.      Contohnya pak ?..
Jawab : kita tidak di tampilkan di koperasi ini tapi ada di ruang kreatif atau ruang seni disana ada tempat alat tulis dan banyak sih hasil kreasi dari siswa yang ada di sana.
8.      Sebenarnya apa sih fungsi dari koperasi itu sendiri ?..
Jawab : Fungsi dari koperasi siswa itu untuk menyediakan fasilitas untuk kegiatan belajar siswa.
BAB III
PENUTUP

1.1.              Kesimpulan

Koperasi siswa SMK NEGERI 1 INDRAMAYU bernama Kosmeta,berdiri pada tahun 1973 Modal awal  di dapat dari siswa sebanyak 1 juta Rupiah dan dikelola sampai sekarang mencapai 23 Juta Rupiah. Kepengurusan Koperasi di kelola oleh Bapak Dwi Haryanto dan ketua serta pengurus koperasi diambil dari murid jurusan akutansi serta murid lainya secara bergilir.

Barang-barang yang dijual di koperasi ini meliputi :
• Alat-alat tulis
• Seragam PSH putih abu-abu
• Seragam Kejuruan
• Buku-buku pelajaran

penyediaan Jasa yang ada di koperasi ini meliputi:
• Menerima jasa foto copy
• Jasa jilid
• jasa laminating

Ada juga barang yang diproduksi oleh siswa seperti tempat untuk alat tulis dan lain-lain
Fungsi dari Koperasi siswa itu sendiri adalah untuk menyediakan fasilitas untuk kegiatan
belajar siswa.      



      





















Jumat, 21 Desember 2012 di 02.06 | 0 komentar  
DESAIN  JAKET SWEATER.........


LOGO BELAKANG........





LOGO DEPAN....


Diposting oleh nanank
Kamis, 20 Desember 2012 di 02.58 | 0 komentar  


Diposting oleh nanank
Jumat, 16 November 2012 di 05.18 | 0 komentar  
Power Of Music
by Lois J. McCloskey
The power of music has been known — yet not fully understood — to humans in all times and in all cultures. Music is a means of expression, music connects emotions — hope, regret, love — and our stories. As a form of communication, music connects us with other human beings, our inner spirits, and our history in a way that words alone cannot. Music is the human language that bridges cultures, genders, and generations.
The power of music grows as we age. To the elderly, music can be a vehicle of reminiscence, such as when an old song brings back the vivid memory of an experience in the distant past — a memory resplendent with not only the story, but the senses and the mood. Our memories are imprinted with music. Music helps us all to define our lives; songs symbolize an era of our life, bring us together in community, and for some become a form of prayer. As one elder said, “Music is emotion from another time. It shapes our personal landscape.”
When words alone make little sense, music becomes an effective means of communication. Aging and disease can leave the body with physical and cognitive disabilities which make expression difficult. Elders with memory loss brought on by conditions such as Alzheimer’s disease often lose the ability to verbalize their thoughts and feelings and to understand the messages spoken to them. Awareness for these elders moves to a different, more intuitive plane where tone of voice and body language speak more loudly. Music speaks to them and for them, and helps them bring clarity to their thoughts and experience. For them, the emotions and spirit that music conveys transcend the spoken word. In some cases, these individuals no longer speak, but they sing!
During a hearing of the U.S. Senate Special Committee on Aging, the well-known neurologist and author Oliver Sacks, M.D. testified that “many elderly patients with strokes are aphasic, they have lost some of their ability to articulate or use words; but the words that are lost may come back with singing...” Musician/singer/actor Theodore Bikel stated, “Human beings are in need of music — not as frill and luxury but as a basic necessity.”
Music and memory are long-time companions who are well suited to one another. Using music as a catalyst, reminiscing can promote well-being and self-esteem, paving the way toward good spiritual and mental health.
Music may be a helpful tool and beneficial for a person with memory loss, but there are definite things to keep in mind:
  Music must be relevant to the person you are working with, i.e. they may have sung in a church choir, so hymns may be music they relate to. Musical tastes are individual and vary. Find out what a person likes or has listened to in the past.
  Not all people are group participants. People with memory loss may begin to become more isolated and do not wish to socialize or to be a part of a group.
  Music programs need to be individual as well as group functions.
  Avoid overstimulation. Sometimes people can become agitated by music that is too fast or too loud. Generally, slower tempos and more melodic music works better (i.e. Strauss waltzes).
  Don’t have music on continuously. Have periods of quiet.
  Music may be incorporated into the daily routine.
  For bathing: Choosing music that’s relaxing and something the individual enjoys may make bathing a more enjoyable experience.
  Before meals: Turn music down or off during meals, because it may direct the person’s attention away from eating.
  Massage: Putting quiet music on and giving a hand massage is noninvasive and nonthreatening, and is also relaxing.
  Exercise to music.
  Reminiscing with music may tap into long-term memory.
  Have a portable tape or CD player in the person’s room, so when they lie down for rest in the day, or sleep at night, they have access to some relaxing music.
  Use of various instruments such as a portable electronic keyboard, autoharp, or guitar may be used to engage people by making them strum, touch, or make sounds on various instruments.
  Using the human voice and singing to people informally while they are dressing or performing other such activities of daily living may be helpful to motivate or to distract.
  Music is the most social of the arts, and a person doesn’t have to
be particularly musical to participate. A person in the late stages of Alzheimer’s disease may still respond to music. It is a valuable tool to use when people are dying, and may be beneficial in assisting with pain management by helping to foster relaxation.
It has been said that “music is the universal language.” In order to learn the “language,” one must use imagination and creativity. The aforementioned are suggestions and ideas which may be tailored to fit individual situations.
A CD of Lois J. McCloskey’s music is included in the Caregiver’s
Support Kit® for your enjoyment and relaxation.
Ms. McCloskey has sung to and with the elderly as a geriatric music consultant, and has experienced the power of music in their lives. She is available for consultations, workshops, and presentations. For more information, contact: Lois J. McCloskey, c/o Molly Dog Music, 6702 Faunterloy Way, SW, Seattle, WA 98136, telephone: 206-932-7007.

Diposting oleh nanank
Senin, 12 November 2012 di 06.46 | 0 komentar  











Diposting oleh nanank


Hikayat Abu Nawas : Dosa Besar dan Dosa Kecil

Abu Nawas al Hasan bin Hani Al Hakami (756–814) orang Persia lahir tahun 756 M di Ahwaz..dan meninggal tahun 814 M di Baghdad.  Ia mengabdikan diri nya pada Sultan Harun Al Rasyid Sultan  Baghdad.  Abu Nawas juga dianggap seorang ulama.  maka banyak muridnya … dan suatu ketika… ada tiga orang yang menanyakan kepada Abu Nawas pertanyaan yang sama… !!! Pertanyaannya adalah “Manakah yang lebih utama mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil… ?”
Orang pertama menanyakan hal itu, dan jawaban Abu Nawas adalah “Orang yang mengerjakan dosa kecil.. !!!” Mengapa… tanya orang pertama. Sebab lebih mudah diampuni oleh Allah.. kata Abu Nawas. Orang pertama puas, yaagh karena ia memang yakin akan hal itu… !!!
Orang kedua menanyakan hal yang sama,… dan jawaban Abu Nawas adalah “Orang yang tidak mengerjakan kedua-duanya… !!!” Mengapa begitu… tanya orang kedua. Yaagh dengan begitu tentu tidak memerlukan pengampunan Allah… kata Abu Nawas… !!! Orang kedua … langsung dapat mencerna penjelasan Abu Nawas…. !!!
Orang ketiga menanyakan juga hal yang sama… !!! Namun jawaban Abu Nawas adalah Orang yang mengerjakan dosa besar… !!! Mengapa … ??? tanya orang ketiga. Sebab pengampunan Allah kepada hambanya sebanding dengan besarnya dosa hambanya itu… !!! jawab Abu Nawas. Orang ketiga puas dengan penjelasan Abu Nawas… !!!
Seorang murid Abu Nawas … yang bingung menanyakan kepada Abu Nawas… !!! “Mengapa dengan pertanyaan yang sama menghasilkan jawaban berbeda… ??? tanyanya.
Jawaban Abu Nawas adalah manusia dibagi tiga tingkatan… yaitu tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati… !!! Seorang anak kecil melihat bintang di langit akan bilang bahwa bintang itu kecil… karena ia hanya menggunakan matanya… !!! Sebaliknya … seorang pandai akan mengatakan bahwa bintang itu besar.. karena ia berpengetahuan dan menggunakan otaknya… !!! Kemudian apa tingkatan hati… ??? Orang pandai yang melihat bintang di langit.. ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil… walau ia tahu bintang itu besar.. !!! Karena ia tahu dan mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Allah yang Maha Besar… !!!
Kemudian … murid tersebut menanyakan… “Wahai Guru… bagaimana mendapatkan ampunan dari Allah mengingat dosa-dosa yang begitu besar… ???”. Bisa… dengan melalui pujian dan doa… kata Abu Nawas… !!! Ajarkan doa itu wahai Guru… pinta murid Abu Nawas… !!!
Illahi lastu lil firdausi ahlan, walaa aqwa’ alannaril jahiimi, fahabli taubatan waqhfir dzunuubi, fa innaka ghafiruz dzambil adziimi ….
Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga. namun aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya hanya Engkau pengampun dosa-dosa besar… Begitulah do’a Abu Nawas

Diposting oleh nanank


SINOPSIS NOVEL NEGRI LIMA MENARA

Kisah ini diawali lima sahabat yang sedang mondok di sebuah pesantren, dan kemudian bertemu lagi ketika mereka sudah beranjak dewasa. Uniknya, setelah bertemu, ternyata apa yang mereka bayangkan ketika menunggu Azhan Maghrib di bawah menara masjid benar-benar terjadi. Itulah cuplikan cerita novel laris Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang menjadi topik Kick Andy kali ini.

Ahmad Fuadi yang berperan sebagai Alif di novel itu berkisah, ia tak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Fuadi tentu saja tidak salah. Sebagai “amak” atau Ibu kala itu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.

“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,” ujar Ahmad Fuadi mengenang keinginan Amak di kampung waktu itu.

Namun ternyata Fuadi alias Alif mempunyai keinginan lain. Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung. Ia mempunyai cita-cita dan keinginan untuk merantau. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya bergeming agar Fuadi tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Namun berkat saran dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo, akhirnya Fuadi kecil bisa merantau ke Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Dan, disinilah cerita kemudian bergulir. Ringkasnya Fuadi kemudian berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani,Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.

Kelima bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik. Menjelang Azan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Fuadi mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.

Melalui lika liku kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ke lima santri itu digambarkan bertemu di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Dan, mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur.

Belajar di pesantren bagi Fuadi ternyata memberikan warna tersendiri bagi dirinya. Ia yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno, ”kampungan” ternyata adalah salah besar. Di pesantren ternyata benar-benar menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen. Di pesantren mental para santri itu ”dibakar” oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah. Setiap hari, sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata mantera ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.

”Siapa mengira jika Fuadi yang anak kampung kini sudah berhasil meraih impiannya untuk bersekolah dan bekerja di Amerika Serikat? Untuk itu, jangan berhenti untuk bermimpi,

Diposting oleh nanank

Daftar ISI :



Kata pengantar…………………………………………………………………………  ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………….. iii
Bab I  Pendahuluan………………………………………………...………………….... 1
1.1.Latar belakang……………………………………………………………………….1
1.2.Tujuan wawancara…………………………………………………………………...2
1.3.Manfaat wawancara………………………………………………………………….3
Bab II  Pembahasan……………………………………………………………………...4
1.1.Laporan hasil wawancara……………………………………………………………..4
Bab III  Penutup………………………………………………………………………….5
1.1.Kesimpulan…………………………………………………………………………...5
1.2.      Foto-Foto yang di abadikan di koperasi SMK N 1 Indramayu……........................6













KATA PENGANTAR

          Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kelompok kami sehingga dapat menyelesaikan Laporan hasil wawancara  ini yang mewawancarai tentang :
“ KOPERASI SISWA SMK NEGRI 1 INDRAMAYU “
            kami menyadari bahwa didalam pembuatan Laporan wawancara ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
            kami menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan wawancara ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan laporan hasil wawancara ini.
Semoga Laporan hasil Wawancara ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Laporan ini memiliki kelebihan dan kekurangan.


Indramayu, 8 september 2012








BAB I
PENDAHULUAN


1.1.         Latar Belakang
Pentingnya diadakanya suatu koperasi di lingkungan sekolah, selain untuk menyediakan fasilitas untuk kegiatan belajar mengajar agar siswa tidak membeli perlengkapan sekolah di luar lingkungan sekolah,  koperasi juga dapat menambah  wawasan siswa dalam berwirausaha yang nantinya akan berguna untuk siswa dikala sudah ada di lingkungan masyarakat. Koperasi siswa itu sendiri biasanya beranggotakan siswa- siswi / Guru  Sekolah dalam lingkungan sekolah tersebut .
1.2.         Tujuan Wawancara
1.      Untuk menyelesaikan tugas pelajaran Bahasa Indonesia tentang koperasi SMK N 1 Indramayu
2.      Untuk mengetahui perkembangan Koperasi SMK N 1 Indramayu
3.      Untuk mengetahui struktur kepengurusan SMK N 1 Indramayu

1.3.         Manfaat Wawancara
1.      Untuk menambah wawasan bagi siswa tentang berkoperasi
2.      Dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan dan pengalaman berkoperasi           











Bab II
PEMBAHASAN

1.1                 Laporan  hasil Wawancara
Topik               : Koperasi Siswa SMK Negeri 1 Indramayu
Narasumber    : Dwi Haryanto ( Ketua Koperasi siswa / Pembina Koperasi )
Hari/tanggal   : Senin, 3 September 2012
Tempat/pukul             :Koperasi Siswa SMK Negeri 1 Indramayu , pukul 15.00 WIB

1.      Apa nama koperasi ini ?..
Jawab : KOSMETA
2.      Koperasi Siswa ini berdiri pada tahun berapa ?..
Jawab : Tahun 1973
3.      Berapakah modal awal yang di keluarkan untuk membuat koperasi ini ?..
Jawab :  Modal awal yaitu dari murid sendiri ,sekitar sebanyak 1 Ruta Rupiah dan itu dikelola sampai sekarang menjadi 23 Juta Rupiah.
4.      Siapa nama pengurus dan anggotanya ?..
Jawab : Untuk pengurusnya kita ambil dari murid kelas sebelas akutansi untuk nama ketua  namanya bima kalau tidak salah,terus untuk pengurusnya banyak sih semua siswa .
5.      Barang-Barang apa saja yang tersedia di koperasi ini ?..
Jawab :  Yang pertama itu ada alat tulis,Seragam PSH putih abu-abu sampai seragam kejuruan,buku-buku pelajaran kita juga menyediakan foto copy,laminating dan jilid juga
6.      Adakah barang yang diproduksi sendiri atau oleh siswa ?..
Jawab :  Ada..
7.      Contohnya pak ?..
Jawab : kita tidak di tampilkan di koperasi ini tapi ada di ruang kreatif atau ruang seni disana ada tempat alat tulis dan banyak sih hasil kreasi dari siswa yang ada di sana.
8.      Sebenarnya apa sih fungsi dari koperasi itu sendiri ?..
Jawab : Fungsi dari koperasi siswa itu untuk menyediakan fasilitas untuk kegiatan belajar siswa.
BAB III
PENUTUP

1.1.              Kesimpulan

Koperasi siswa SMK NEGERI 1 INDRAMAYU bernama Kosmeta,berdiri pada tahun 1973 Modal awal  di dapat dari siswa sebanyak 1 juta Rupiah dan dikelola sampai sekarang mencapai 23 Juta Rupiah. Kepengurusan Koperasi di kelola oleh Bapak Dwi Haryanto dan ketua serta pengurus koperasi diambil dari murid jurusan akutansi serta murid lainya secara bergilir.

Barang-barang yang dijual di koperasi ini meliputi :
• Alat-alat tulis
• Seragam PSH putih abu-abu
• Seragam Kejuruan
• Buku-buku pelajaran

penyediaan Jasa yang ada di koperasi ini meliputi:
• Menerima jasa foto copy
• Jasa jilid
• jasa laminating

Ada juga barang yang diproduksi oleh siswa seperti tempat untuk alat tulis dan lain-lain
Fungsi dari Koperasi siswa itu sendiri adalah untuk menyediakan fasilitas untuk kegiatan
belajar siswa.      



      





















Diposting oleh nanank

TIME

follow

My calender

Pengikut

About Me

Foto Saya
nanank
เพื่อนเป็นบล็อกของฉัน
Lihat profil lengkapku

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

CREATIVE

Aku bukanlah orng hbat,tapi ku mau belajar dari orng-orng yg hbat Aku adlah orng yang biasa tpi ku ingin mnjadi orng yg luar biasa. Dan aku bukanlah orang yg istmewa tpi ku ingin membuat seseorang mnjdi istimewa....